Menemukan Sang Pencipta di Alam Semesta

August 14, 2016

 

 

Oleh: Azka Madihah

 

Dimuat di Majalah Aulia Edisi November 2011

 

 

 

“Al-Fiil, Al-Fiil!” seru Umar riang. Terutama karena berhasil mendahului sang adik yang masih membuka-buka kamus bahasa Arab untuk anak-anak. Annisa dan Adit sedang membawa kedua anaknya, Umar dan Khansa ke Taman Safari, Cisarua. Mereka mengadakan permainan. Siapa yang paling banyak menyebutkan nama hewan dalam bahasa Arab ketika melihat hewan tersebut akan menang. Hadiahnya? Boleh beli tiga buku cerita kesukaan di toko buku!

 

Adit tersenyum melihat antusiasme anak-anaknya. Ia pun mengisahkan tentang Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah dengan pasukan gajahnya. Lalu bagaimana Allah melindungi Ka’bah dengan burung-burung Ababil.

 

Umar dan Khansa mendengarkan kisah ayahnya dengan semangat. Mata mereka tidak lepas dari beberapa gajah Afrika yang sedang makan dan minum itu. Tampak bahwa mereka mampu memvisualisasikan cerita dalam surat Al-Fiil tersebut dengan lebih nyata, karena sedang ada gajah di depan mereka.

 

“Kalau Allah nggak ngirim burung Ababil, Ka’bah udah hancur ya, Ayah? Dinjak-injak gajah sebesar itu,” tanya Khansa, mata beningnya hampir tidak berkedip melihat gajah-gajah tersebut.

 

“Bunda… Setelah ini kita akan lihat kambing gunung. Jangan lupa, ini giliran Bunda lho yang cerita tentang anak penjual susu kambing yang tidak mau mencampur susu dengan air. Penekanannya tentang nilai kejujuran berarti ya, Bunda. Bahwa Allah Maha Melihat,” ujar Adit seraya menatap hangat istrinya.

 

MENGENAL ALAM CIPTAAN ALLAH

 

Pada alam, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Mengajak anak ke perkebunan, peternakan, sungai, laut, atau planetarium, harus diagendakan agar anak dapat mengenal alam dan penciptanya. Terangkan berdasarkan sudut pandang anak sesuai umur mereka.

 

“Kakak suka makan ikan bakar tadi? Yuk sekarang kita lihat bagaimana cara ikan-ikan itu ditangkap. Kakak sudah tahu kan ya perahu-perahu di pinggir pantai itu untuk menjaring ikan di laut? Nah, sekarang kita lihat cara menangkap yang lain. Mereka pakai jaring yang besaaar sekali untuk menangkap ikan dari pinggir pantai,” Afra menerangkan kepada Khalid, anaknya, saat keluarga mereka liburan sekolah ke Pantai Pangandaran, Ciamis.

 

Setelah mengamati para nelayan menarik jaring, Khalid berteriak-teriak, “Bu, alhamdulillah, mereka dapat ikan banyak! Ayo, Bu! Ayo, Pak! Kita hitung mereka dapat berapa ikan!”

 

“Pak, Allah lebih sayang sama nelayan ya? Mereka boleh ambil ikan di laut sepuasnya tanpa harus ngasih makan. Kalau petani, harus tanam benih dulu. Harus disiram, diberi pupuk, baru bisa panen,” Khalid bertanya pada ayahnya saat mereka sudah sampai ke penginapan.

 

“Kakak ingat waktu ke Little Farmers yang di Bandung? Teteh yang di sana bilang kalau ingin tanaman subur, apa saja yang dibutuhkan?” Farhan bertanya demikian agar logika anaknya tertata baik.

 

“Cahaya matahari, air, dan pupuk kompos,” jawab Khalid.

 

Farhan tersenyum, “Subhanallah, Kakak pandai! Nah, cahaya matahari dan air kan diberi gratis oleh Allah. Juga pupuk kompos, diberi gratis oleh sapi dan kambing. Sapi dan kambing juga ciptaan Allah. Jadi Allah sayang semua hamba-Nya, nggak cuma sayang nelayan.”

 

“Subhanallah, Bapak pandai!” canda Khalid dengan mengikuti ucapan bapaknya. Afra dan Farhan tergelak mendengarnya.

 

PETANI DAN PETERNAK CILIK

 

Maksud hati ingin mengenalkan anak pada jenis-jenis tanaman sayur dan buah dari proses menanam hingga panen, tetapi selalu tertunda karena sulit mencari tempat yang sesuai? Atau ingin mengetahui cara beternak sapi, kambing, kelinci, bahkan cacing? Ayo, pergi ke Bandung dan Bogor! Sayang sekali jika ke dua kota besar itu hanya untuk berbelanja.

 

LITTLE FARMERS, BANDUNG

 

Little Farmers yang berlokasi di Lembang, Bandung ini menitikberatkan kepada pengalaman langsung di alam terbuka melalui pendidikan dan wisata berkebun. Anak-anak dapat mengenal sejak dini proses bercocok tanam, beternak, dan panen agar mereka dapat lebih memahami dan mensyukuri nikmat yang Allah berikan.

 

Kegiatan menanam bibit sayuran dan panen disesuaikan dengan rencana penanaman di kebun. Sayuran yang dibudidayakan di  kebun di antaranya wortel, selada, pakcoy, jagung, buncis, brokoli, bunga kol, mint, tomat, stroberi, jamur, dan lainnya. Hewan ternak yang dipelihara antara lain sapi, domba, kelinci, dan cacing (untuk pembelajaran komposting). Terdapat pula instalasi Biogas dan pengolahan pupuk Kompos dari kotoran hewan.

 

Kegiatan di Little Farmers yang memiliki ikon Worta-Worti ini meliputi jalan-jalan di kebun mengenal berbagai jenis sayuran, mempelajari cara menanam benih, memanen sayuran, serta memberi makan hewan ternak.

 

Asyiknya, di Little Farmers dilengkapi pula dengan sarana permainan seperti Flying Fox, Two Line Bridge, Labirin, Mini Arung Jeram, Berkuda, kendaraan ATV, dan lain-lain.

 

AGRIPARK, BOGOR

 

Agripark, berlokasi di Taman Kencana Sempur di tengah Kota Bogor, sengaja dirancang sebagai kawasan wisata berbasis pertanian yang terdiri dari dua bagian, yakni Agrifun dan Agricafe.

 

Di kawasan Agrifun, anak-anak bebas bermain di kandang kambing dan memberi minum susu anak- anak kambing dengan botol dot. Mereka juga dapat belajar memerah susu sapi. Jangan lupa sisipkan cerita bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam dan nabi-nabi Allah yang lain dahulu banyak yang menggembala dan beternak kambing.

 

Di setiap kegiatan selalu ada pemandu yang menemani anak- anak. Anak-anak diterangkan bagaimana pohon dapat tumbuh, apa kegunaannya, dan cara menanamnya. Mereka juga dapat membawa pulang bibit tanaman cabai dan tomat untuk ditanam di rumah.

 

Di taman wisata Agripark ini, seorang anak dapat belajar menjadi dokter hewan di klinik hewan. Di klinik ini, anak-anak akan diperkenalkan kepada dokter hewan yang mengobati dan merawat hewan piaraan, seperti kucing, anjing, kelinci, dan ular. Sempatkan pula untuk bercerita bahwa kucing adalah hewan kesenangan Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam. Juga tentang anjing Ashabul Kahfi yang ikut tertidur di gua selama 309 tahun.

 

Sementara di Agricafe, pengunjung dapat menikmati aneka sajian dari produk-produk organik pertanian, perkebunan, dan peternakan di bawah pengawasan Institut Pertanian Bogor.

 

KELUARGA PETUALANG

 

Mari sesekali sewa sebuah tenda dome ukuran besar, sleeping bag, matras, hingga kompor kecil ke tempat penyewaan alat-alat kegiatan alam. Biasanya ada di dekat kampus atau tempat wisata. Ajak seluruh keluarga untuk berpartisipasi menyiapkan aktivitas ini. Boleh ke pantai, boleh ke kaki gunung. Cari yang memang ada fasilitas perkemahan, sehingga lebih aman karena ada penjaganya. Selain itu, tersedia pula kamar mandi dan warung yang mempermudah pengalaman pertama anak dalam berkemah.

 

Kalau berkemah dengan anak, banyak hal yang perlu diperhatikan. Stamina anak tidak sama dengan ayah ibunya, karena itu sesuaikan kegiatan dengan ritme mereka. Jangan merasa bahwa ini repot. Anak-anak yang terkena banyak paparan alam akan tumbuh dengan lebih sehat dibandingkan yang terlalu banyak menonton televisi atau main video games di rumah. Ini investasi dunia akhirat, demi kesehatan, kecerdasan, juga penanaman nilai Islam dari sudut pandang lain.

 

KEGIATAN SERU

 

Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk menunjukkan kebesaran Allah saat berkemah. Di antaranya ialah:

 

1. Gunakan sobekan tisu tipis untuk melihat ke mana angin berhembus. Pakai kompas untuk mengetahui arahnya. Ceritakan bahwa ini berguna bagi kapal layar di laut.

 

2. Manfaatkan kaca pembesar untuk belajar biologi langsung di alam terbuka. Bukan sekadar dari buku teks sekolah. Amati serangga, cacing, kepiting kecil, dan dedaunan.

 

3. Mendengarkan melodi alam. Lalu ajak anak menirukan suara burung hantu, jangkrik, atau kodok yang ia dengar.

 

4. Pelajari tanaman yang tidak hidup di tanah. Bedakan antara lichen yang tumbuh di batu, jamur yang tumbuh di kayu, dan epifit yang menumpang di pohon hidup. Epifit memiliki daun yang berbeda dengan daun pohon inangnya.

 

5. Kumpulkan kerikir, pasir, dan tanah. Masukkan ke wadah transparan. Beri air. Lalu tutup. Minta anak mengocoknya. Setelah itu perhatikan bagaimana kerikil, pasir, dan tanah bertumpuk seperti lapisan sedimen. Tanpa disadari, anak sedang belajar geologi!

 

6. Di pantai yang jelas terlihat matahari terbit dan tenggelam, manfaatkan untuk menjelaskan bagaimana Allah amat teratur membuat bumi mengelilingi matahari satu putaran penuh selama satu tahun. Manfaatkan pula untuk menjelaskan mata angin, bahwa matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat.

 

BERENANG, BERKUDA, MEMANAH

 

Belum lengkap rasanya kalau mengenal Allah melalui mengenal alam ini tidak disertai pembelajaran tentang sunnah RasulullahSallallahu ‘alayhi wa sallam berikut ini:

“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Berenang dapat diajarkan kepada anak melalui metode mengasyikkan. Ajaklah anak-anak ke Pantai Pasir Putih di Pangandaran, Ciamis. Atau Pantai di Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu. Atau Pantai Senggigi di Lombok. Biarkan mereka senang bermain dengan air terlebih dahulu. Setelah mereka ingin belajar berenang dengan serius, baru ajaklah anak-anak ke kolam berenang.

 

The Jungle di Bogor, Amazing Water World di Mekarsari, hingga Jatim Park di Malang dapat menjadi alternatif tempat belajar berenang yang seru. Anak-anak pasti senang apabila ada air yang ditumpahkan dari ember raksasa di atas kolam atau meluncur dari perosotan nan tinggi.

 

Sementara berkuda dapat dipelajari di tempat-tempat yang menyediakan pelatihan menunggang kuda untuk anak seperti Arthayasa Stables di Desa Grogol Limo, Depok, Jawa Barat, Pacuan Kuda Pulo Mas di Jakarta Timur, Pikatan Stable di Baguntapan, Bantul, Yogyakarta, dan De'Ranch di Lembang, Bandung. Ajak anak menonton film sejarah Islam tentang peperangan yang dipimpin Rasulullah Sallallahu ‘alayhi wa sallam setelah mereka belajar berkuda agar kisah risalah tersebut lebih dalam tertanam dalam ingatan.

 

Lalu belajar memanah dapat dilakukan di Lapangan Panahan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Di sini anak-anak boleh uji coba dahulu, apabila tertarik bisa mengambil paket kursus yang mereka sediakan. Memanah penting untuk melatih konsentrasi dan kesabaran bagi anak.

 

CINTAI ALAM, CINTAI PENCIPTANYA

 

Randy White dan Vicki Stoecklin menulis dalam artikel Children’s Outdoor Play and Learning Environments: Returning to Nature, bahwa pandangan anak terhadap alam berbeda dengan orang dewasa yang menganggap alam sebagai fasilitas. Anak mempelajari lingkungan alam sebagai stimulator dan bagian dari aktivitasnya. Selain itu, anak menilai lingkungan bukan berdasarkan keindahan melainkan bagaimana mereka dapat berinteraksi di dalamnya.

 

Konsep-konsep abstrak seperti efek rumah kaca, kerusakan hutan, lubang ozon di atmosfer merupakan permasalahan di luar kemampuan kognitif, pemahaman, dan kontrolnya. Sayangnya, inilah yang diajarkan kepada anak-anak sejak sekolah dasar di dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mereka.

 

Akibatnya anak akan bingung bahkan takut ketika memikirkan tentang alam. Ini yang disebut dengan Biophobia, ketakutan pada kehidupan alam dan masalah ekologi. Biophobia adalah kebalikan dari Biophilia yang merupakan kebutuhan alami manusia untuk berinteraksi dengan alam dan secara genetis memiliki respon positif terhadap alam.

 

Karena itu, sebelum mempelajari tentang pemanasan global di sekolah mereka, kenalkan dulu bahwa seluruh alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Bahwa alam ini begitu luas, begitu indah. Temani mereka untuk berinteraksi dengan alam.

 

Boleh dengan berenang, berkuda, atau memanah. Belajar bertani dan beternak. Berkemah. Susur pantai. Jelajah sungai. Silakan saja. Biarkan mereka mengeksplorasi alam dengan cara mereka. Dengan begitu, mereka akan mencintai alam, berusaha menjaganya, dan tentu saja yang utama, mencintai Sang Pencipta alam raya.

Please reload

Recent Posts

December 5, 2017

November 21, 2017

Please reload

Archive
Please reload

Terms of Service    |    Refund Policy    |    Privacy Policy    |    FAQ      |    Site Map