Menyiapkan Anak Terbang Menuju Masa Depan

October 5, 2016

 

 

Jika boleh jujur, sungguhnya tempat teraman bagi seorang anak menurut sang ibu ialah tatkala sang anak masih bergelung dalam rahimnya. Dipeluk cairan amniotik nan hangat, berdegup bersama jantung sang ibu, mengalirkan darah yang sama. Jika seorang ayah hendak jujur, maka tempat teraman bagi buah hatinya adalah dalam pelukan sang ayah; yang selalu siap melindungi apa pun terjadi. Sayangnya, semua itu mustahil adanya. Anak adalah amanah peradaban. Merupakan suatu fitrah bagi mereka, untuk tumbuh kembang sebagai pribadi mandiri. Namun bagaimanakah cara mendidik anak agar sanggup berdiri di atas kaki sendiri, siap berlari menuju apa yang mereka cita-citakan?

 

Tim Mungilmu menghadiri Seminar “Fairy Tale Syndrome” yang menghadirkan psikolog Elly Risman, S.Psi sebagai pembicara. Ibu Elly menyampaikan, bahwa sedari kecil, anak harus dibentuk menjadi pribadi yang mandiri. Anak akan terus berkembang menjadi remaja lalu dewasa. Dalam melalui tahap-tahap ini, orangtua harus mempersiapkan anak agar dapat beradaptasi pada masanya.  Pencapaian orangtua di saat mendidik anak ialah bagaimana nantinya anak akan menjadi istri/suami juga ibu/bapak yang baik. Mungkin ada yang berpendapat hal ini terlalu jauh dipikirkan. Mari kita berpikir jangka panjang. Kalau anak bukan didik untuk tumbuh dewasa dengan baik, lalu apa?

 

Anak pada saat usia dini bisa dikatakan berada pada masa keemasan. Kala perlakuan, pengajaran, dan segala sesuatunya dapat diserap dengan cepat dan dapat berdampak di masa datang. Kepribadian seseorang terbentuk sejak lima tahun pertama kehidupan. Pada masa-masa ini sangat berarti untuk anak agar dididik dengan benar dan baik. Termasuk menjadi pribadi mandiri. Apabila anak tidak dibiasakan mandiri dari kecil maka, akan timbul Peter Pan Syndrome atau Cinderella Complex. Unik memang. Sesuai namanya, Peter Pan Syndrome mengacu pada pribadi laki-laki yang tidak tumbuh dewasa. Jika dihitung dengan bilangan usia atau dilihat dari penampilan, mungkin terlihat dewasa. Tapi, dalam dirinya ia tidak dewasa. Sedangkan Cinderella complex ialah perempuan yang selalu berharap ada seorang pangeran yang akan datang membantu menyelesaikan masalah atau kesulitan hidup. Biasanya syndrome ini akan terlihat di umur 20 tahun ke atas.

 

Bagaimana bisa terjadi? Kembali pada pengasuhan orangtua. Orangtua bertindak terlalu protektif, tidak memberi celah pada anak untuk mencoba mandiri. Orangtua tidak membangun jiwa BMM (Berpikir, Memilih, Mengambil Keputusan). Dari hal yang sangat sederhana seperti, memilih baju yang akan dipakai, memilih makanan, bidang yang diminati, dan lain-lain sebaiknya melibatkan anak untuk turut berpikir menentukan pilihan. Apabila keputusan yang dipilih anak kurang baik, ajaklah anak berdiskusi ringan. Lalu sampaikan konsekuensi yang akan didapat oleh sang anak pada setiap pilihan yang ada. Cara ini dapat menstimulus anak untuk berpikir dan mengambil keputusan. Ketika nanti anak tumbuh dewasa, ia tidak bergantung pada orang lain dan dapat menyelesaikan masalah sendiri. Karena kini, kesuksesan tidak lagi diukur dari IQ tapi, AQ (Adversity Quotient). Yakni ketika seseorang sanggup untuk menyelesaikan masalah dan bertahan ketika menghadapi rintangan hidup. Pun semua itu diawali dengan satu kunci utama: anak berhasil tumbuh sebagai pribadi mandiri.

 

Maka perlahan, siapkan ilmu untuk mendidik anak sesuai usia mereka. Bimbinglah agar mereka memiliki kepercayaan diri, keterampilan hidup, dan kepribadian yang baik. Doakan selalu di setiap kesempatan. Arahkan dengan penuh kasih sayang. Sehingga ketika mereka siap melebarkan sayapnya menuju cakrawala masa depan terbaik, kita dapat tersenyum bangga.

Please reload

Recent Posts

December 5, 2017

November 21, 2017

Please reload

Archive
Please reload

Terms of Service    |    Refund Policy    |    Privacy Policy    |    FAQ      |    Site Map