Melatih Anak Bicara: Perlu Upaya dari Hati

January 25, 2017

 

 

Setiap orangtua menginginkan perkembangan yang optimal dari setiap aspek pertumbuhan anak-anaknya termasuk aspek bahasa. Berbicara adalah salah satu indikator pencapaian dari aspek ini. Sebenarnya sejak baru lahir, seorang anak bisa dilatih untuk berbicara. Hanya saja banyak orangtua yang belum menyadari potensi ini.

 

Saat bayi baru lahir, dia sudah berkomunikasi melalui tangisan dan dia sudah bisa membuat respon terhadap suara. Orangtua dapat melatihnya dengan mengeluarkan suara-suara lembut untuk menyapa bayi. Pada usia 1-3 bulan bayi sudah dapat mengeluarkan tawa yang berarti ada peningkatan dalam aspek komunikasinya. Sejatinya pada usia ini bayi belajar dari apa yang dikatakan oleh orang tua. Orangtua harus memperbanyak berbicara dan menyapa bayi sambil memberi ekspresi tersenyum. Beberapa pakar pendidikan anak usia dini bahkan menyarankan untuk mulai membacakan buku sejak usia ini untuk merangsang skill membaca sejak dini.

 

Hal ini juga yang berusaha saya terapkan pada anak pertama saya, Ksatria (sekarang usia 3 tahun 8 bulan) saat dia baru lahir. Saya berusaha mengajaknya mengobrol tentang apa saja bahkan dengan kata dan kalimat yang terkesan untuk orang dewasa. Misalnya saya bacakan berita apa yang sedang hangat di televisi. Ya, Ksatria si bayi kecil itu memang hanya mengeluarkan ekspresi-ekspresi khas bayi kecil. Tetapi dampaknya sungguh terasa sekarang. Di usianya yang akan 4 tahun sebentar lagi, Ksatria telah mampu bercerita dengan kalimat-kalimatnya yang kompleks dibandingkan dengan anak seusianya yang lain.

 

Anak-anak sesungguhnya sangat suka mendengarkan orangtuanya berbicara. Berbicaralah sesering mungkin pada bayi untuk mengasah aspek bahasanya. Ibu atau pengasuh dapat menjelaskan aktivitas yang sedang berlangsung seperti memandikan, mengganti popok, atau memberi ASI kepada si bayi.

 

Bisa jadi godaan terbesar seorang Ibu saat menyusui anaknya adalah gawai (gadget). Memang benar sekali, waktu luang sembari menyusui si bayi dapat kita gunakan untuk berselancar di dunia maya. Tetapi minimal sapalah si kecil sebelum menyusuinya. Panggil nama lengkapnya agar dia belajar siapa dirinya sedari dini. Hal ini yang saya coba terapkan sehingga meskipun namanya tergolong sulit diucapkan namun Ksatria sudah biasa memanggil dirinya sendiri sejak usia 15 bulan dengan sebutan “Ksatia”.

 

Pada usia 4-6 bulan, seorang bayi mulai mengoceh menyamakan suara dengan apa yang didengarnya. Orang tua dapat menatap mereka seolah tahu apa yang sedang diucapkannya. Ini akan membuat bayi mendapat penghargaan positif atas ocehan mereka. Hindari berbicara kasar dan buruk sedari dini karena setiap apa yang diucapkan akan tersimpan dalam memori si bayi.

 

Jangan lupa untuk meminta maaf jika pada akhirnya kita terlanjur berbicara kasar atau marah terhadap si bayi. Meminta maaflah dengan tulus sambil menyebutkan kesalahan kita agar anak kita juga belajar bahwa emosi memang terkadang terlepas tetapi kita wajib meminta maaf atas kesalahan kita tidak bisa mengendalikan emosi.

 

Seorang ibu juga dapat mengenali faktor-faktor penyebab mengapa dia emosi agar dapat meminta bantuan kepada anggota keluarga yang lain, Misalnya pada saat Ksatria mengalami growth spurt dan menyusu tiada henti di malam hari, saya menjadi cepat marah dan gampang emosi terhadap Ksatria. Akhirnya saya dan suami sepakat untuk menitipkan Ksatria yang saat itu berusia 4 bulan sebentar ke orang tua agar kami dapat refreshing sebentar pergi ke toko buku.

 

Kata pertama biasanya muncul secara bervariasi pada usia 10 – 14 bulan. Biasanya bayi memberikan label terhadap sesuatu yang akrab bagi mereka seperti “mama”, “susu”,atau “baba” untuk ayah. Orang tua dapat mengembangkan kata ini dengan sering menggunakannya dalam kalimat sehari-hari di hadapan bayi.

 

Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang positif antara keaktifan si ibu dalam berbicara (talkativeness) dengan jumlah kosa kata anak pada usia 1 dan 3 tahun. Hal ini menjadi motivasi bagi ibu dan atau pengasuh untuk aktif.

 

Sehingga tiada cara lain dalam melatih anak berbicara, selain:

 

1. Memperbanyak interaksi percakapan dengan si kecil berapapun usianya

2. Mengajaknya bersenandung atau bernyanyi berapapun usianya

3. Menggunakan bahasa dan intonasi yang positif saat berbicara

4. Meminimalisir penggunaan gadget sebelum usia 2 tahun

 

Setiap anak memiliki potensi kecerdasan bahasa yang besar sekali. Tugas setiap orang tua untuk menstimulasinya bahkan sejak ia baru lahir. Setiap bayi baru lahir sudah dapat mendengar suara meskipun penglihatannya masih samar-samar.

 

Untuk orang tua yang bekerja di luar rumah, stimulasi melatih anak berbicara dapat diwakilkan kepada pengasuh yang menjaga si kecil di rumah. Memang dibutuhkan kontrol dan program yang konsisten per hari-nya untuk memberi waktu bercakap-cakap dengan si kecil. Orang tua yang bekerja juga dapat memanfaatkan waktu sebelum maupun sepulang bekerja untuk bercakap-cakap dengan si kecil.

 

Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kualitas waktu antara orang tua dengan anak lebih berpengaruh terhadap kecerdasan si kecil daripada kuantitas waktu yang dihabiskan. Jadi, jangan menyerah bagi para orang tua yang bekerja untuk tetap memberikan konsentrasi terbaik di setiap pertemuan dengan si kecil walaupun waktunya sempit tetapi tetap gunakan untuk bercakap-cakap, menyapanya dengan intonasi dan emosi yang positif dan atau mengajaknya bersenandung. Karena sungguh, melatih anak berbicara, berkomunikasi, tidaklah sekadar mempraktikkan teori belaka. Butuh upaya sepenuh hati, setulus kasih sayang orangtua untuk menengok lebih dalam isi hati ananda, untuk kemudian mengungkapkan dan membaca bahasa tubuh, bahasa verbal, dan bahasa kalbunya.

 

Selamat menstimulasi si kecil untuk berbicara! :)

Please reload

Recent Posts

December 5, 2017

November 21, 2017

Please reload

Archive
Please reload

Terms of Service    |    Refund Policy    |    Privacy Policy    |    FAQ      |    Site Map