Hadirkan Konselor di Rumah

 

Menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah yang harus kita syukuri. You are my everything, kira-kira begitulah sosok ibu di mata anak-anaknya. Bagaimana tidak? Ibu dapat menjelma menjadi berbagai profesi. Wah hebat ya! Kok bisa? Coba perhatikan, seorang ibu banyak memiliki keahlian seperti juru masak, guru, dokter, konselor, bahkan terkadang banyak juga yang pandai dalam berkebun dan electricity. Menjadi ibu perlu memiliki banyak keahlian seperti ini, karena tidak selamanya kita bersama suami atau siapapun yang dapat membantu di rumah.

 

Kali ini, Tim Mungilmu ingin berbagi tips mengenai membangun kemampuan menjadi konselor anak. Profesi yang satu ini penting dipraktikkan di rumah. Karena sering kali anak bercerita dan berkeluh kesah kepada ibu. Ketika sosok konselor hadir di rumah, anak akan merasa nyaman dan akan kembali ke rumah jika memiliki masalah. 

 

Keterampilan yang harus dimiliki konselor adalah menjadi pendengar yang baik. Caranya bagaimana? Dengan mendengar aktif. 

 

Terdapat empat komponen dalam mendengar aktif, yaitu:

 

Pertama, salah satu cara yang efektif untuk memperkuat hubungan dengan anak adalah menyesuaikan perilaku non-lisan anak. Penyesuaian ini bisa dengan meniru postur anak. Sebaik mungkin hal ini dilakukan dengan alami dan nyaman agar tidak terlihat canggung. Selain itu, orangtua dapat menyesuaikan kecepatan berbicara dan nada suara anak. Hal ini dilakukan agar membangun relasi yang kuat antara anak dan orangtua sebagai pendengar. Jika anak berbicara dengan cepat, responlah dengan cara yang sama. Ketika anak mengubah cara bicaranya, orangtua dapat menyesuaikan perubahan tersebut.

 

Selanjutnya, menyesuaikan ketinggian kontak mata. Menjaga kontak mata penting dalam membangun relasi dengan anak. Akan tetapi, tetap harus disesuaikan dengan kondisi anak. Karena setiap anak memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda dalam hal kontak mata ini. Ada tipe anak yang lebih nyaman berbicara bebas tanpa ada kontak mata. Pada akhirnya, ketika pendengar mampu dalam menyesuaikan perilaku non-lisan dan postur tubuh anak  maka,  anak akan merasa didengar dengan penuh perhatian.

 

Kedua, penggunaan sedikit respons. Memberikan respons ialah tanda bahwa pendengar sedang menyimak. Sedikit respons dapat berupa non-lisan, lisan atau sekedar anggukan. Ketika merespons dengan lisan, dapat memberikan sedikit ekspresi seperti ‘Ah-ha’, ‘Hmm’, ‘Ya’, ‘Oke’, dan ‘Benar’. Respons yang agak panjang dapat dengan mengatakan, ‘Bunda mengerti’, ‘Bunda mendengar apa yang kakak katakan’. Sedikit respons dan respons yang agak panjang ini dapat mendorong anak untuk melanjutkan kisah mereka. Namun ingat, respons tidak berupa menghakimi, secara positif ataupun negatif. Hal ini dapat mempengaruhi cerita anak. Anak dapat mengubah ceritanya agar mendapatkan persetujuan atau menghindar dari ketidaksetujuan orang tua.

 

Ketiga, penggunaan refleksi. Ketika anak bercerita, ia tidak hanya ingin mendapatkan kesan bahwa pendengar sedang mendengar penuh dengan perhatian. Ia juga perlu diberi keyakinan bahwa pendengar menyimak konten dan rincian cerita yang disampaikan. Cara efektif yang dapat meyakinkan mereka ialah dengan menggunakan ‘refleksi’.  Ada dua jenis refleksi yaitu, refleksi konten (memfarafrasakan) dan refleksi perasaan.

 

Refleksi konten ialah kemampuan pendengar dalam mengulang kembali apa yang dikatakan atau diceritakan anak. Dalam artian pendengar merefleksikan konten terpenting tentang apa yang dikatakan anak dan menggunakan kata-kata pendengar sendiri. Refleksi konten ini membuat anak lebih menyadari dengan apa yang ia katakan.  Sedangkan refleksi perasaan, memberikan informasi sekaligus kesadaran kepada anak mengenai perasaan emosi yang diekspresikannya. Anak perlu memahami perasaanya agar dapat mengatasi dan mengelolanya dengan baik. Contoh merefleksikan perasaan dengan pernyataan sebagai berikut, ‘Kamu sedih’, ‘Kamu terlihat marah’, atau ‘Kamu terlihat kecewa’. Jika anak tidak menyadari perasaannya sendiri, emosinya akan tidak stabil. Anak perlu kemampuan untuk mengelola emosi. Disinilah peran konselor dalam membantu anak mengelola emosinya.

 

Keempat, penggunaan kesimpulan. Memberikan kesimpulan ialah tahap terakhir. Pendengar, dalam hal ini orangtua, dapat menyimpulkan apa yang diceritakan anak dengan memilih poin terpenting dan merefleksikan perasaanya. Seringkali anak bingung dengan rincian cerita mereka sendiri. Dengan penyimpulan di akhir ini, anak dapat memperoleh gambaran jelas mengenai apa yang telah ia ceritakan.

 

Ketika orangtua memiliki keterampilan sebagai pendengar yang baik dan aktif maka, dapat membantu anak dalam mengenali masalahnya. Dan ketika anak merasa orangtuanya ialah pendengar yang baik maka, ia tidak akan ragu untuk menceritakan segala sesuatu. Selamat mencoba ya, Ayah dan Bunda!

 

 

Sumber:

Geldard, Geldard dan Yin Foo. 2016. Konseling Anak-anak: Panduan Praktis. Jakarta: Indeks.

 

Please reload

Recent Posts

December 5, 2017

November 21, 2017

Please reload

Archive
Please reload

Terms of Service    |    Refund Policy    |    Privacy Policy    |    FAQ      |    Site Map